Refleksi: Rumah yang Tidak Pernah Mengajariku Cara Pergi
Empat puluh tiga tahun....
"Empat puluh tiga tahun adalah usia yang cukup bagi sebuah pohon untuk menancapkan akar hingga menembus jantung bumi. Usia yang cukup bagi sebuah sekolah untuk melahirkan ribuan mimpi, menampung jutaan doa, dan menyimpan samudra kenangan yang tak akan habis diceritakan bahkan oleh seribu penulis sekalipun. Dan di antara ribuan kisah yang lahir dari tempat ini, aku hanyalah satu titik kecil yang Tuhan izinkan singgah."
Tahun 2018. Aku masih mengingatnya seperti embun yang menempel di daun setiap pagi. Hari ketika hidupku diam-diam berbelok arah. Hari ketika Tuhan mengubah jalan hidupku tanpa terlebih dahulu meminta persetujuanku. Aku datang ke SMPK Bina Wirawan Maumere bukan dengan map lamaran di tangan. Bukan pula dengan segudang pengalaman mengajar. Aku datang melalui sebuah kepercayaan.
Suatu hari aku dipanggil oleh Suster Maria Miit Molan, CIJ. Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya, siapa yang menyebut namaku waktu itu? Siapa yang meyakinkan beliau bahwa aku layak menjadi seorang guru? Aku tidak pernah tahu. Yang kutahu, hari itu beliau mempercayaiku. Dan kepercayaan itu jauh lebih besar daripada kemampuanku sendiri.
Sejujurnya, menjadi guru bukanlah cita-citaku. Aku membayangkan diriku bekerja di instansi pemerintah. Aku membayangkan diriku bekerja di lapangan. Aku membayangkan profesi lain yang tidak berhubungan dengan ruang kelas, papan tulis, dan tumpukan administrasi. Tetapi Tuhan rupanya memiliki rencana yang berbeda. Aku menerima tawaran itu dengan setengah ragu. Dan ternyata keraguan itulah yang kemudian mengantarkanku menemukan rumah kedua dalam hidupku.
Tahun-tahun pertama terasa berat. Administrasi guru menjulang seperti gunung yang tidak terlihat puncaknya. Perangkat pembelajaran terasa seperti hutan belantara yang membuatku tersesat berkali-kali. Aku sering pulang membawa kebingungan. Sering bertanya pada diri sendiri. "Apakah aku mampu?" "Apakah aku salah memilih jalan?"Namun setiap kali aku hampir menyerah, selalu ada tangan yang mengangkatku. Ada kepala sekolah yang percaya. Ada rekan-rekan guru yang mendampingi. Ada keluarga besar sekolah yang menerima segala kekuranganku. Mereka tidak sekadar bekerja bersamaku. Mereka menuntunku bertumbuh. Perlahan. Sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya aku tidak lagi bertanya apakah aku mampu menjadi guru. Karena sekolah ini sendiri yang telah mengajariku menjadi seorang guru.
Beberapa tahun kemudian, sebuah kabar datang membawa haru yang sulit dijelaskan. Suster Maria Miit Molan, CIJ, sosok yang pertama kali membuka pintu pengabdian bagiku di SMPK Bina Wirawan, menerima tugas perutusan yang baru. Beliau harus meninggalkan Maumere dan melanjutkan pelayanan di SMPK Asumta Kupang, sekolah lain yang juga berada di bawah naungan Yayasan Bina Wirawan. Hari ketika kabar itu diumumkan, suasana sekolah terasa berbeda. Seolah ada senja yang turun lebih cepat dari biasanya. Beliau bukan sekadar kepala sekolah. Beliau adalah seorang ibu bagi sekolah ini. Seorang pemimpin yang tidak hanya melihat angka dan administrasi, tetapi melihat manusia dan masa depan. Aku adalah salah satu saksi dari kasih dan kepercayaan itu. Karena tanpa keberanian beliau mempercayaiku dahulu, mungkin aku tidak pernah berdiri di tempat ini. Perpisahan itu mengajarkanku bahwa bahkan orang-orang terbaik pun memiliki waktunya sendiri untuk melanjutkan perjalanan. Kami melepas beliau dengan doa. Dengan rasa syukur. Dan dengan hati yang berat.
Namun Tuhan tidak pernah membiarkan rumah ini kehilangan arah. Ketika satu pemimpin melanjutkan pelayanannya di tempat lain, Tuhan mengirimkan kembali sosok yang telah lama mengenal rumah ini. Suster Awu Maria Imaculata, S.Pd. Beliau bukanlah orang baru bagi SMPK Bina Wirawan. Beberapa tahun sebelumnya beliau pernah menjadi kepala sekolah di tempat ini sebelum mendapat tugas pelayanan di Lembata. Kini beliau kembali. Dan kepulangannya terasa seperti seorang anggota keluarga yang lama merantau lalu pulang ke rumah. Banyak kenangan lama hidup kembali. Banyak wajah tersenyum menyambutnya. Beliau datang membawa semangat baru tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi jiwa sekolah. Dari pergantian kepemimpinan itu aku belajar bahwa sekolah yang besar tidak dibangun oleh satu orang. Ia dibangun oleh estafet cinta. Oleh tangan-tangan yang saling melanjutkan perjuangan. Oleh hati-hati yang rela datang dan pergi demi memastikan kapal besar bernama SMPK Bina Wirawan terus berlayar menuju tujuan yang sama.
Hari-hari berlalu seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Aku belajar. Aku bertumbuh. Aku jatuh. Aku bangkit. Dan pada tahun 2025, Tuhan menghadiahkanku sebuah jawaban atas perjalanan panjang itu. Aku lulus Pendidikan Profesi Guru. Di belakang namaku kini tersemat gelar Gr. Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah dua huruf. Tetapi bagiku, dua huruf itu adalah kumpulan ribuan doa, ratusan malam tanpa tidur, dan perjuangan panjang yang tidak pernah sia-sia. Namun hadiah terbesar bukanlah gelar itu. Hadiah terbesar adalah karena aku menemukan rumah. Rumah yang tidak pernah mengajariku cara pergi. Rumah yang hanya mengajariku cara mencintai.
Aku sering disebut sebagai guru yang galak. Mungkin memang benar. Ada murid yang jantungnya berdebar ketika namaku dipanggil. Ada yang diam-diam berharap aku tidak masuk kelas. Tetapi mereka tidak tahu. Bahwa setiap teguran yang keluar dari mulutku lahir dari ketakutan yang sama. Aku takut mereka menyerah. Aku takut mereka berhenti bermimpi. Aku takut mereka kalah sebelum bertarung. Karena itu aku keras. Karena aku ingin mereka lebih kuat daripada kehidupan yang akan mereka hadapi kelak. Namun justru dari merekalah aku belajar tentang kehidupan. Aku melihat sepatu yang mulai rusak tetapi tetap dipakai ke sekolah. Aku melihat senyum yang tetap mengembang meskipun di rumah mereka sedang menghadapi kesulitan. Aku melihat perjuangan yang kadang jauh lebih besar daripada usia mereka. Dan setiap kali melihat mereka, aku merasa sedang membaca kitab kehidupan yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.
Empat puluh tiga tahun SMPK Bina Wirawan berdiri. Empat puluh tiga tahun sekolah ini menjadi rahim yang melahirkan generasi-generasi hebat. Generasi yang cerdas. Generasi yang berbakat. Generasi yang berkarakter. Generasi yang tidak hanya unggul dalam akademik tetapi juga memiliki teladan hidup Kristiani yang baik. Paduan suara sekolah mengharumkan nama lembaga. Musik dan tari menjadi kebanggaan yang selalu dinanti. Pramuka tumbuh menjadi wadah pembentukan karakter yang kuat. Drum band dan futsal berkali-kali membawa pulang kemenangan. Piala dan piagam memenuhi lemari prestasi. Namun sesungguhnya kebanggaan terbesar sekolah ini bukanlah piala. Melainkan manusia-manusia baik yang dilahirkannya. Mungkin itulah sebabnya sekolah ini selalu mendapat tempat di hati masyarakat. Bahkan banyak orang tua non-Katolik mempercayakan pendidikan anak-anak mereka di sini. Karena mereka tahu bahwa sekolah ini tidak hanya mendidik kepala. Tetapi juga membentuk hati.
Namun setiap rumah memiliki ruang dukanya sendiri. Dan sekolah ini pun demikian. Sebelum April 2023 datang, kami lebih dahulu kehilangan Ibu Simporosa. Guru BP/BK yang humoris. Perempuan hebat yang selalu cekatan menangani persoalan anak-anak. Beliau adalah pelabuhan tempat banyak murid menambatkan keluh kesahnya. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi. Lalu April 2023 datang membawa duka yang lebih dalam. Bapa Kristoforus Tonce. Guru Bahasa Indonesia. Sahabat. Kakak. Teman seperjalanan. Pria yang tenang seperti senja dan bijaksana seperti pohon tua yang menaungi banyak orang. Kemarin kami masih bercanda. Masih berbincang. Masih berjalan di koridor yang sama. Namun tiba-tiba Tuhan memanggilnya pulang. Kursinya kosong. Mejanya kosong. Tetapi yang paling kosong adalah hati kami. Dan ternyata langit masih menyimpan satu duka lagi.
September 2025. Pak Yolus. Guru IPS muda yang baru seminggu menjadi bagian keluarga besar SMPK Bina Wirawan. Baru sempat menyapa. Baru sempat mengenal lingkungan sekolah. Belum sempat menanam banyak kenangan. Namun Tuhan telah memanggilnya kembali. Kadang hidup memang seperti buku yang tidak memberi tahu halaman mana yang akan menjadi halaman terakhir. Tetapi tidak semua perpisahan datang dengan air mata duka.
Ada juga perpisahan yang datang dengan syukur meski tetap meninggalkan kehilangan. Desember 2025. Empat sosok hebat mengakhiri masa baktinya. Bapa Petrus Organis. Guru Bahasa Inggris yang humoris dan legendaris dengan bimbingan storytelling-nya. Bapa Virginus Limboga. Guru IPS yang tegas, keras, tetapi sangat dicintai para alumni. Ibu Gaudensiana. Guru Bahasa Indonesia yang keibuan, tenang, dan penuh kelembutan. Serta Ibu Rini Da Silva. Tenaga kependidikan yang tertib, teliti, ramah, dan luar biasa dalam mengelola administrasi serta keuangan sekolah.
Hari itu, kami mengantar mereka menuju babak baru kehidupan. Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral menjadi saksi syukur sekaligus haru kami. Sesudahnya, para yubilaris disambut dengan tarian di gerbang sekolah dan resepsi sederhana namun penuh cinta di aula sekolah. Semua tampak bahagia. Semua tampak meriah. Tetapi diam-diam kami sedang belajar kehilangan. Karena kami tahu setelah hari itu akan ada kursi-kursi yang tidak lagi terisi. Ada suara-suara yang tidak lagi terdengar. Ada langkah-langkah yang tidak lagi menyusuri koridor sekolah setiap pagi. Mereka pergi membawa sebagian sejarah sekolah ini. Kini ketika aku berdiri memandang halaman sekolah yang dipenuhi suara anak-anak setiap pagi, aku menyadari satu hal. Aku datang ke tempat ini dengan keraguan. Tetapi aku bertahan karena cinta. Cinta yang tumbuh perlahan. Cinta yang lahir dari kebersamaan. Cinta yang ditempa oleh perjuangan, kegagalan, tawa, kehilangan, dan pengharapan. Suatu hari nanti mungkin aku juga akan pergi. Namaku mungkin tidak lagi tercantum dalam daftar guru. Mejaku mungkin akan ditempati orang lain. Suaraku mungkin tidak lagi terdengar dari ruang kelas. Tetapi jika hari itu tiba, aku ingin meninggalkan sekolah ini dengan hati yang penuh syukur. Karena di tempat inilah aku belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi. Ia adalah panggilan. Ia adalah pengorbanan. Ia adalah doa yang berjalan dengan dua kaki. Dan SMPK Bina Wirawan Maumere akan selalu menjadi rumah yang tidak pernah mengajariku cara pergi. Karena sebagian jiwaku telah memilih tinggal di sini. Di lorong-lorong yang penuh kenangan. Di ruang guru yang menyimpan ribuan cerita. Di tawa para murid. Di doa-doa para suster. Dan di setiap jejak perjuangan yang telah membentukku menjadi diriku hari ini. Sebab sesungguhnya, mendidik adalah bentuk cinta yang paling sunyi. Dan cinta yang paling sunyi sering kali menjadi cinta yang paling abadi.

-100x100.png)


