Berita

Dari Ruang Kelas di Kabupaten Sikka: PPG Mengubah Cara Saya Menjadi Guru bagi Anak-Anak yang Membutuhkan Harapan

Oleh: Fransiskus Almadiu, S.Fil., Gr. || SMPK Bina Wirawan Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur

Pendahuluan

Setiap pagi, ketika lonceng sekolah berbunyi di SMPK Bina Wirawan, Kabupaten Sikka, peserta didik memasuki ruang kelas dengan membawa cerita kehidupan yang berbeda-beda. Di balik seragam yang mereka kenakan, tersimpan harapan, pergumulan, dan pengalaman hidup yang tidak selalu tampak. Pengalaman mendampingi mereka menyadarkan saya bahwa ruang kelas bukan sekadar tempat berlangsungnya proses pembelajaran, melainkan ruang kehidupan tempat karakter dibentuk, harapan ditumbuhkan, dan masa depan mulai dirancang. Oleh karena itu, seorang guru tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga memahami peserta didik sebagai pribadi yang sedang bertumbuh dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam.

Kesadaran tersebut tidak saya miliki sejak awal menjadi guru. Ketika mulai mengajar di SMPK Bina Wirawan pada tahun 2018, saya bukan lulusan kependidikan dan belum memiliki pengalaman mengelola pembelajaran. Saya sering merasa ragu dalam menyusun perangkat ajar, mengelola kelas, maupun memahami karakter peserta didik. Beruntung, saya mendapat bimbingan dari kepala sekolah dan rekan-rekan guru yang terus mendorong saya untuk belajar. Dari mereka saya memahami bahwa menjadi guru bukan sekadar mengajar, tetapi juga terus memperbaiki diri demi memberikan pembelajaran yang bermakna.

Seiring waktu, saya mulai mencintai profesi ini. Namun, muncul kegelisahan karena saya merasa keberhasilan pembelajaran tidak cukup diukur dari tersampaikannya materi atau tingginya nilai peserta didik. Sebagai guru Muatan Lokal sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, saya melihat banyak peserta didik menghadapi persoalan yang memengaruhi proses belajar mereka. Saat itu saya masih memandang aturan dan sanksi sebagai cara utama membangun disiplin, hingga akhirnya saya mempertanyakan apakah saya telah menjadi guru yang benar-benar dibutuhkan oleh peserta didik.

Titik balik perjalanan tersebut terjadi ketika saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada tahun 2025. PPG tidak hanya meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional saya, tetapi juga mengubah cara saya memandang peserta didik. Saya belajar bahwa setiap perilaku memiliki latar belakang yang perlu dipahami. Sejak saat itu saya menyadari bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, melainkan menghadirkan harapan melalui pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik.

Pembahasan

PPG Mengubah Cara Saya Melihat Peserta Didik

Salah satu pelajaran paling berharga yang saya peroleh selama mengikuti PPG adalah perubahan cara memandang peserta didik. Sebelum mengikuti PPG, saya sering menilai peserta didik dari perilaku yang tampak di sekolah. Peserta didik yang sering terlambat saya anggap kurang disiplin. Peserta didik yang tidak mengerjakan tugas saya nilai kurang bertanggung jawab. Mereka yang sulit berkonsentrasi di kelas saya anggap kurang memiliki motivasi belajar. Tanpa saya sadari, cara pandang tersebut membuat saya lebih mudah menilai daripada memahami. Melalui berbagai mata kuliah, praktik pembelajaran, refleksi, observasi, serta diskusi selama PPG, saya mulai memahami bahwa setiap perilaku peserta didik memiliki latar belakang yang tidak selalu terlihat oleh guru.

Pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang mereka jalani di luar sekolah. Seorang guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga perlu memiliki kepekaan untuk memahami kondisi psikologis, sosial, budaya, dan keluarga peserta didiknya. Kesadaran itu semakin kuat ketika saya mengingat kembali berbagai pengalaman selama mengajar di SMPK Bina Wirawan. Banyak peserta didik kami hidup dalam kondisi yang jauh dari ideal. Sebagian berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ada yang harus tinggal bersama kakek dan nenek karena orang tua bekerja di luar daerah. Ada yang kehilangan salah satu orang tua. Bahkan ada peserta didik yang harus belajar mandiri sejak usia remaja karena berbagai persoalan keluarga.

Saya mulai memahami bahwa peserta didik datang ke sekolah bukan hanya membawa tas berisi buku, tetapi juga membawa beban hidup yang sering kali tidak mampu mereka ungkapkan. Mereka tetap duduk di ruang kelas, tetapi pikiran mereka mungkin sedang memikirkan keadaan keluarga di rumah. Mereka tetap tersenyum kepada guru, padahal hati mereka sedang dipenuhi kegelisahan. Sejak saat itu saya berusaha mengubah cara berinteraksi dengan peserta didik. Saya mulai lebih banyak bertanya daripada menghakimi. Saya berusaha mendengarkan sebelum memberikan penilaian. Saya menyadari bahwa perhatian sederhana dari seorang guru sering kali memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan. Perubahan cara pandang tersebut menjadi fondasi baru dalam seluruh proses pembelajaran yang saya lakukan.

Muatan Lokal sebagai Jalan Mencintai Identitas

Sebagai guru Muatan Lokal, saya memperoleh kesempatan yang sangat berharga untuk memperkenalkan kekayaan budaya Kabupaten Sikka kepada peserta didik. Saya percaya bahwa pendidikan tidak boleh membuat anak-anak tercerabut dari akar budayanya sendiri. Sebaliknya, sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya rasa bangga terhadap identitas lokal.

Dalam proses pembelajaran, saya mengajak peserta didik mengenal tenun ikat Sikka, rumah adat, lagu daerah, tari tradisional, alat musik tradisional, permainan rakyat, cerita rakyat, hingga nilai-nilai gotong royong yang diwariskan oleh para leluhur. Pembelajaran tidak berhenti di dalam kelas. Saya berusaha menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan mereka. Peserta didik berdiskusi tentang makna motif tenun ikat, mengenali filosofi rumah adat, mempelajari lagu-lagu daerah yang mulai jarang dinyanyikan, serta mendokumentasikan berbagai tradisi yang masih hidup di lingkungan sekitar mereka.

Saya melihat perubahan yang sangat menggembirakan. Anak-anak mulai memahami bahwa budaya daerah bukan sesuatu yang kuno atau memalukan. Mereka mulai bangga mengenakan kain tenun dalam berbagai kegiatan sekolah. Mereka tampil percaya diri membawakan tarian daerah pada berbagai acara sekolah, peringatan hari besar nasional, maupun kegiatan masyarakat. Saya semakin yakin bahwa pembelajaran Muatan Lokal bukan sekadar memenuhi struktur kurikulum, tetapi menjadi sarana membangun identitas, karakter, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran.

Belajar Menjadi Guru yang Mendampingi

Perubahan terbesar juga saya rasakan ketika menjalankan tugas sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan. Sebelum mengikuti PPG, saya berpikir bahwa tugas utama bidang kesiswaan adalah menjaga ketertiban melalui aturan yang tegas. Tata tertib menjadi pedoman utama, sedangkan pelanggaran harus direspons dengan sanksi agar memberikan efek jera. Namun, PPG mengajarkan bahwa disiplin yang sejati lahir dari kesadaran, bukan semata-mata dari rasa takut terhadap hukuman.

Pemahaman tersebut mendorong saya bersama sekolah untuk mulai mengembangkan pendekatan pembinaan yang lebih edukatif. Dalam menyusun tata tertib maupun bentuk pembinaan terhadap peserta didik, saya tidak lagi hanya memikirkan jenis pelanggaran dan sanksinya, tetapi juga bagaimana setiap proses pembinaan dapat menjadi pengalaman belajar yang membentuk karakter. Saya mulai lebih sering mengajak peserta didik berdialog secara personal. Saya berusaha memahami alasan di balik setiap pelanggaran yang mereka lakukan. Tidak sedikit peserta didik yang akhirnya terbuka mengenai persoalan keluarga, tekanan pergaulan, atau kesulitan yang sedang mereka alami. Dari percakapan sederhana tersebut saya belajar bahwa banyak perilaku negatif sebenarnya merupakan bentuk ungkapan dari kebutuhan akan perhatian dan pendampingan.

Perubahan pendekatan itu juga saya rasakan dalam berbagai kegiatan sekolah. Melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, kegiatan Pramuka, pembinaan organisasi siswa, kegiatan seni, hingga pertemuan bersama orang tua, saya berusaha membangun budaya sekolah yang lebih hangat, partisipatif, dan menghargai setiap peserta didik sebagai pribadi yang sedang bertumbuh. Saya percaya bahwa guru tidak hanya hadir ketika peserta didik berhasil meraih prestasi, tetapi juga ketika mereka sedang mengalami kegagalan. Justru pada saat-saat itulah kehadiran seorang guru memiliki makna yang paling besar.

Guru yang Terus Belajar: Buah Terbesar dari PPG

Mengikuti PPG telah mengubah cara saya memandang profesi guru. Saya menyadari bahwa sertifikat pendidik bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan, melainkan titik awal untuk terus belajar. Guru yang profesional bukanlah guru yang merasa sudah mengetahui segala sesuatu, tetapi guru yang memiliki kerendahan hati untuk terus memperbaiki diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, karakter peserta didik, dan perubahan zaman.

Selama mengikuti PPG, saya tidak hanya belajar menyusun perangkat pembelajaran, merancang asesmen diagnostik, atau membuat modul ajar yang sesuai dengan prinsip pembelajaran mendalam. Lebih dari itu, saya belajar melakukan refleksi terhadap setiap praktik pembelajaran yang saya lakukan. Saya mulai menyadari bahwa pembelajaran yang baik bukanlah pembelajaran yang membuat guru tampak hebat menjelaskan materi, melainkan pembelajaran yang membuat peserta didik aktif berpikir, berani bertanya, bekerja sama, dan menemukan makna dari apa yang mereka pelajari. Perubahan tersebut tidak terjadi secara instan. Ada banyak proses yang harus saya lalui. Saya harus belajar meninggalkan kebiasaan lama yang terlalu berpusat pada guru. Saya belajar merancang aktivitas yang memberi ruang kepada peserta didik untuk mengeksplorasi ide, berdiskusi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah berdasarkan pengalaman nyata mereka.

Dalam mata pelajaran Muatan Lokal, saya mulai mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek. Peserta didik mempelajari budaya Kabupaten Sikka melalui pengalaman langsung. Mereka berdiskusi mengenai makna budaya, mendokumentasikan tradisi yang masih hidup di lingkungan sekitar, mempresentasikan hasil temuannya, hingga menghasilkan karya seni yang merefleksikan identitas mereka sebagai generasi muda Sikka. Saya melihat perubahan yang luar biasa. Peserta didik menjadi lebih antusias mengikuti pembelajaran karena mereka merasa apa yang dipelajari memiliki hubungan dengan kehidupan mereka. Mereka mulai berani menyampaikan pendapat, saling menghargai pendapat, dan menunjukkan kreativitas yang sebelumnya tidak pernah tampak. Bagi saya, keberhasilan terbesar bukan ketika seluruh materi selesai diajarkan, melainkan ketika peserta didik pulang dari sekolah dengan membawa pengalaman belajar yang bermakna.

Ketika Guru Hadir, Harapan Bertumbuh

Semakin lama saya mengajar, semakin saya percaya bahwa setiap anak membutuhkan setidaknya satu orang dewasa yang percaya kepada dirinya. Di sekolah, sosok itu sering kali adalah guru. Saya teringat pada beberapa peserta didik yang pada awalnya dikenal sebagai anak yang sulit diatur. Mereka sering terlambat, jarang mengerjakan tugas, atau beberapa kali melanggar tata tertib sekolah. Dahulu mungkin saya akan langsung memberikan teguran atau sanksi. Namun setelah mengikuti PPG, saya memilih jalan yang berbeda. Saya mengajak mereka berbicara secara pribadi, mendengarkan cerita mereka, dan mencoba memahami apa yang sedang mereka alami. Dalam percakapan-percakapan sederhana itu, saya menemukan kenyataan yang mengubah cara pandang saya. Saya menyadari bahwa perilaku mereka di sekolah sering kali hanyalah puncak dari persoalan yang jauh lebih kompleks. Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa pendidikan yang berpihak kepada peserta didik tidak cukup diwujudkan melalui kurikulum yang baik atau metode pembelajaran yang menarik. Pendidikan juga membutuhkan guru yang bersedia hadir sebagai pendengar, pembimbing, dan penguat harapan.Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa perubahan perilaku peserta didik tidak selalu dimulai dari nasihat panjang atau hukuman yang berat. Terkadang perubahan dimulai dari sapaan hangat di pagi hari, pertanyaan sederhana tentang keadaan mereka, atau kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini tersembunyi.

Sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, pemahaman ini turut memengaruhi cara saya memandang pembinaan karakter. Saya semakin percaya bahwa tata tertib sekolah bukan sekadar kumpulan larangan dan sanksi, tetapi merupakan sarana pendidikan yang membantu peserta didik bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Karena itu, berbagai bentuk pembinaan yang kami lakukan selalu diarahkan agar memiliki nilai edukatif, membangun kesadaran, dan mendorong perubahan dari dalam diri peserta didik.

Refleksi

Perjalanan saya sebagai guru telah mengajarkan bahwa perubahan terbesar dalam pendidikan sering kali tidak dimulai dari perubahan kurikulum, melainkan dari perubahan hati seorang guru. PPG memperkuat pembelajaran hidup tersebut. Saya belajar bahwa guru bukan hanya penyampai pengetahuan, tetapi penumbuh harapan. Guru bukan hanya penilai hasil belajar, tetapi pendamping perjalanan hidup peserta didik. Guru bukan hanya pelaksana kurikulum, tetapi pembangun masa depan bangsa melalui sentuhan-sentuhan kecil yang mungkin tidak pernah tercatat dalam laporan akademik. Kini saya semakin memahami makna filosofi Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Filosofi tersebut bukan lagi sekadar konsep yang saya pelajari selama PPG, tetapi menjadi kompas yang saya pegang setiap kali memasuki ruang kelas. Saya percaya bahwa setiap guru memiliki kesempatan untuk menjadi cahaya bagi peserta didiknya. Cahaya itu tidak selalu berupa prestasi yang gemilang atau penghargaan yang membanggakan. Terkadang cahaya itu hadir melalui kesediaan seorang guru untuk tetap percaya kepada seorang anak ketika tidak ada lagi orang yang mempercayainya.

Penutup

Ruang kelas di SMPK Bina Wirawan telah mengajarkan bahwa menjadi guru adalah sebuah proses belajar yang tidak pernah selesai. Melalui Pendidikan Profesi Guru, saya belajar melihat peserta didik sebagai pribadi yang utuh. Mereka bukan sekadar angka dalam daftar hadir, bukan pula sekadar nilai dalam buku rapor. Mereka adalah anak-anak yang membawa mimpi, harapan, sekaligus pergulatan hidup yang berbeda-beda. Tugas saya bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi menghadirkan ruang belajar yang membuat mereka merasa aman, dihargai, didengar, dan percaya bahwa mereka memiliki masa depan.

Dari sebuah ruang kelas di Kabupaten Sikka, saya belajar bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil. Di ruang kelas itulah harapan ditanamkan, karakter dibentuk, dan masa depan bangsa dipersiapkan. Ketika seorang guru memilih untuk terus belajar, memahami peserta didiknya, dan mengajar dengan hati, sesungguhnya ia sedang menyalakan cahaya harapan. Mungkin cahaya itu tampak kecil hari ini, tetapi saya percaya, dari cahaya kecil yang dinyalakan oleh para guru di seluruh Indonesia, masa depan bangsa akan bersinar lebih terang.

Daftar Pustaka

Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru. (2025). Panduan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Ki Hadjar Dewantara. (2004). Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian Pertama Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Panduan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Jakarta: Kemendikdasmen.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.