Ikuti Kami di Media Sosial

📱 WhatsApp Sekolah 📘 Facebook 📸 Instagram ▶️ YouTube
Berita

Berita

KUMPULAN PUISI

" UNTUK PALUE, PULAU YANG TERLUKA"

Karya. ALDHY DYU

Untuk masyarakat Palue yang pernah memberi saya tempat untuk memperkenalkan sekolah, dan kini sedang bertahan di tengah luka akibat gempa.

I

Palue...

Kemarin aku datang kepadamu

Aku datang sebagai tamu.

Namun kau menerima dengan kehangatan yang membuatku tidak merasa asing.

Kau memberikan tempat.

Kau menyediakan ruang.

Kau membiarkan kami berbicara tentang pendidikan, tentang mimpi,

tentang anak-anak yang kelak akan melangkah melampaui batas laut yang mengelilingi pulau kecilmu.

Tidak pernah aku membayangkan bahwa setelah perjumpaan itu,

bumi akan mengguncangmu dengan amarah yang begitu dahsyat.

Aku membayangkan bagaimana pagi itu datang.

Mungkin ada seorang ibu yang sedang menyiapkan makanan.

Mungkin ada seorang ayah yang sedang bersiap menuju kebun.

Mungkin ada seorang anak yang masih menggenggam mimpi di dalam tidur.

Lalu... bumi bergerak.

Dalam sekejap, ketenangan berubah menjadi kepanikan.

Dinding berguncang. Debu terbang. Orang-orang berlari.

Dan ketakutan menjadi bahasa yang sama di setiap wajah.

Betapa mengerikan ketika tanah yang selama ini kita injak tiba-tiba menjadi sesuatu
yang membuat kita kehilangan rasa percaya.

Betapa menyayat hati ketika rumah yang dibangun dengan keringat bertahun-tahun
tidak lagi mampu memberikan perlindungan.

Di antara gemuruh, mungkin ada seorang anak yang memanggil:

“Mama!”

Dan seorang ibu menjawab sambil berlari dengan tubuh gemetar.

Mungkin ada seorang ayah yang kembali masuk ke dalam rumah untuk memastikan tidak ada anggota keluarganya yang tertinggal.

Palue...

Jika hari ini air mata dapat mengubah batu menjadi pasir, mungkin pulaumu telah lama menjadi hamparan kesedihan.

Jika ketakutan memiliki suara, barangkali suaranya telah mengalahkan gemuruh ombak di pantai-pantaimu.

Dan jika kesedihan dapat terlihat, mungkin langit di atasmu  telah retak oleh tangisan.

 

II

Palue….

Aku tidak tahu seberapa panjang malam yang kalian lalui.

Aku tidak tahu berapa kali kalian terbangun karena membayangkan bumi akan kembali bergerak.

Aku tidak tahu berapa banyak anak yang kini tidak lagi berani tidur tanpa menggenggam tangan ibunya.

Tetapi aku tahu...

ketakutan seperti itu adalah luka yang tidak selalu tampak.

Ia tinggal di dalam ingatan.

Ia bersembunyi di balik senyuman.

Ia muncul Kembali ketika suara kecil terdengar atau ketika tanah bergetar sedikit.

Hari ini, aku hanya mampu mengirimkan doa.

Aku ingin mengetuk langit dengan sebuah permohonan:

Tuhan, peluklah Palue.

Peluk anak-anak yang mungkin masih menyimpan takut di dalam tidur mereka.

Kuatkan para ibu yang berusaha tegar meski hati mereka sendiri sedang gemetar.

Berikan tenaga kepada para ayah yang harus tetap berdiri ketika keluarganya membutuhkan bahu.

Tenangkan mereka yang kehilangan tempat tinggal.

Hibur mereka yang kehilangan orang terkasih.

Dan bagi mereka yang kini hidup di bawah tenda,

jadikan langit bukan sekadar atap sementara,

tetapi tanda bahwa masih ada harapan yang lebih luas daripada ketakutan.

 

III

Palue...

Aku tahu, sebuah puisi tidak dapat membangun kembali rumah yang runtuh.

Puisi tidak dapat mengembalikan mereka yang telah pergi.

Puisi tidak dapat menghapus ketakutan dari hati seorang anak.

Namun izinkan kata-kata ini menjadi sebutir kecil Cahaya di tengah malam yang panjang.

Izinkan ia berlayar menyeberangi laut dan tiba di tanahmu.

Lalu berkata:

“Kalian tidak sendiri.”

Ada banyak hati yang mungkin jauh secara jarak, tetapi dekat dalam kepedulian.

Ada tangan-tangan yang tidak dapat hadir secara langsung, namun terangkat dalam doa.

Ada mata yang berkaca-kaca ketika mendengar kabar tentangmu.

Dan ada orang-orang yang pernah menerima kebaikanmu,

yang kini membawa namamu ke dalam kesunyian doa mereka.

Kuatlah, Palue.

Bukan karena kami ingin memaksamu untuk berhenti menangis.

Menangislah
jika air mata itu adalah satu-satunya cara untuk mengeluarkan luka.

Menangislah...

karena kadang hati yang terlalu lama kuat juga membutuhkan tempat untuk hancur.

Namun setelah itu,

ketika pagi kembali datang,

pandanglah lautmu.

Lihatlah bagaimana ombak selalu kembali ke Pantai meski berkali-kali dipukul angin.

Begitulah hidup.

Kadang kita dihantam hingga merasa tidak sanggup berdiri.

Namun selalu ada kekuatan yang diam-diam tumbuh di dalam diri manusia.

Dan aku percaya,

Palue akan menemukan kekuatannya.

Bukan karena lukamu kecil.

Bukan karena ketakutan itu mudah dilupakan.

Tetapi karena cinta selalu mampu menyatukan mereka yang memilih bertahan.

Suatu hari nanti, anak-anakmu akan kembali tertawa.

Suara mereka akan kembalimengisi halaman.

Orang-orang akan Kembali membicarakan masa depan.

Dan pulau ini akan mengajarkan kepada generasi yang lahir setelah hari ini:

“Kami pernah diguncang.

Kami pernah kehilangan.

Kami pernah menangis. Tetapi kami tidak menyerah.”

Ketika hari itu tiba,

aku ingin kembali mengingat perjumpaan pertama kita.

Saat aku datang membawa nama sekolah.

Dan Palue...

kau memberiku sebuah tempat.

Kini,

tempat itu telah berubah menjadi kenangan yang sangat dalam.

Sebab setelah melihatmu terluka, aku mengerti:

kebaikan tidak pernah berakhir pada hari ia diberikan.

Ia tinggal.

Ia tumbuh.

Ia menjelma menjadi rasa peduli.

Maka hari ini,

izinkan aku mengembalikan sebagian kecil dari kebaikanmu melalui doa yang sederhana:

Semoga Palue kembali pulih.

Semoga tanahmu kembali tenang.

Semoga malam tidak lagi dipenuhi kecemasan.

Semoga anak-anakmu kembali tidur tanpa takut terbangun.

Semoga mereka yang kehilangan diberi kekuatan untuk melanjutkan hidup.

Dan semoga suatu hari,

ketika aku kembali datang ke Palue,

aku tidak lagi menemukan wajah-wajah yang diselimuti ketakutan.

Aku ingin melihat senyum.

Aku ingin melihat kehidupankembali bergerak.

Karena Palue...

bagiku,

kau bukan hanya sebuah pulau di tengah lautan.

Kau adalah tempat yang pernah mengajarkanbahwa menerima seseorang tidak harus mengenalnya terlebih dahulu.

Dan ketika bumi melukaimu,

izinkan kami membalas dengan satu hal yang mungkin tidak besar,

tetapi tulus: Kami tidak melupakanmu.

Untuk Palue...

pulau yang pernah membuka pintu bagi langkah kami.

Hari ini, namamu tinggal di dalam doa.

Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk terus dipeluk oleh harapan.

Semoga setelah semua tangisan ini, masih ada pagi yang datang dengan tenang.

Pagi ketika matahari kembali terbit tanpa diiringi gemuruh.

Pagi ketika anak-anak kembali berani memandang langit.

Pagi ketika tanahmu menjadi tempat pulang yang tidak lagi menakutkan.

Dan ketika hari itu tiba,

biarlah laut di sekelilingmu menyanyikan satu kabar:

Palue pernah terluka, tetapi tidak pernah menyerah.

Palue pernah menangis, tetapi tidak membiarkan dukanya menghentikan kehidupan.

Dan bagi kamiyang pernah menerima kebaikanmu,

namamu akan selalu menjadi sebuah pengingat:

bahwa di tengah dunia yang kadang berguncang begitu keras,

masih ada satu hal yang harus tetap kita jaga

kemanusiaan.

 

PALUE, JANGAN MENANGIS SENDIRIAN

Karya. ALDHY DYU

Palue...

Siapa sangka,

bumi datang mengguncangmu,

seolah langit sedang menjatuhkan seluruh dukanya ke atas tanahmu.

Hari ini,

aku tidak membawa brosur atau cerita tentang sekolah.

Aku hanya membawa doa dan hati yang ikut retak ketika mendengar Palue menangis.

Palue...

Jika tangismu menjadi hujan, mungkin seluruh lautan tak sanggup menampungnya.

Jika lukamu menjadi suara, mungkin langit pun akan pecah oleh kesedihan.

Hari ini, izinkan aku memberi tempat untukmu di dalam doa.

Bertahanlah, Palue...

Sebab meski bumi telah mengguncangmu hingga ketakutan terasa lebih besar daripada gunung,

jangan biarkan dukamu menghancurkan harapan.

Dan jika malam terasa begitu panjang,

ingatlah...

ada banyak hati yang jauh, tetapi sedang memelukmu dengan doa.

Untuk Palue...

hari ini namamu tidak hanya tinggal dalam ingatan,

tetapi tinggal di dalam air mata yang diam-diam jatuhketika aku menyebut namamu.

LAU LU’A (Di Palue Sana)

Karya. ALDHY DYU

Pagi itu,

aku masih mengenal tanah sebagai tempat pulang.

Sampai tiba-tiba bumi mengaum dari perutnya.

Rumah bergoyang.

Dinding pecah.

Tanah menjerit di bawah kakiku.

Langit seakan runtuh

bersama seluruh ketakutan manusia.

Aku berlari.

Bukan untuk menyelamatkan harta,

bukan untuk mencari apa-apa—

aku hanya mencari orang-orang yang kucintai.

Di tengah debu aku mendengar jeritan.

Aku ingin menjawab semuanya,

tetapi suaraku sendiri tertimbun oleh gemuruh.

Lalu...

sunyi.

Sunyi yang lebih tajam daripada seribu jeritan.

Nama-nama dipanggil.

Satu demi satu.

Sebagian menjawab.

Sebagian tidak pernah lagi.

Palue...

Hari itu laut pun terasa terlalu kecil untuk menampung air mata kami.

Langit terlalu tinggi untuk mendengar seluruh doa.

Dan bumi...

bumi yang sejak kecil kami percaya sebagai tempat berpijak,

hari itu menjadi tempat yang paling kami takuti.

Malam datang.

Kami tidak pulang.

Sebab rumah telah menjadi kenangan.

Kami duduk di bawah langit dengan tubuh menggigil, menunggu bumi berhenti marah.

Setiap getaran kecil membuat jantung kami seolah hendak pecah dari dada.

Lau lu’a...

Di Palue sana,

jika malam ini kau mendengar seseorang menangis,

mungkin itu aku.

Masih duduk di antara reruntuhan.

Masih berharap pagi akan mengembalikan semua yang hilang.